Monday, September 2, 2013

Kehidupan Bumi Mungkin berasal dari MARS

Dari mana kita semua berasal? Studi terbaru mengungkapkan bahwa kehidupan di Bumi mungkin berasal dari Mars.

Baru-baru ini, ilmuwan menganalisis sebuah meteorit yang berasal dari Mars. Mereka menemukan adanya unsur bernama Molybdenum dalam bentuk yang telah teroksidasi. 

"Hanya bila Molybdenum ada dalam bentuk yang sangat teroksidasi maka unsur itu bisa memengaruhi permulaan kehidupan," kata Steven Benner dari Westheimer Institute for Science and Technology di Florida.

Molybdenum dalam bentuk yang sangat teroksidasi tidak bisa ditemukan di Bumi purba. Sebabnya, bumi pada awal terciptanya kehidupan, sekitar 3 miliar tahun lalu, miskin unsur oksigen.

Para peneliti percaya, unsur Molybdenum yang teroksidasi itulah yang mendorong terciptanya makhluk hidup di Bumi.

Molekul organik memang syarat utama terciptanya kehidupan. Namun, molekul ini butuh pemantik lain sehingga kehidupan benar-benar tercipta. Kehidupan terbentuk hanya dengan penambahan Boron dan Molybdenum.

Boron akan membantu terbentuknya cincin molekul karbohidrat. Sementara Molybdenum membantu menyusun unsur gula ribosa, yang kemudian menjadi bagian dari Asam Ribonukleat (RNA), materi genetik yang dipercaya eksis sejak awal kehidupan. Ilmuwan percaya, pada awal kehidupan, belum ada Asam Deoksiribonukleat (DNA).

"Analisis pada meteorit Mars baru-baru ini menunjukkan bahwa obyek itu memiliki kandungan Boron. Kami sekarang percaya bahwa bentuk Molybdenum yang teroksidasi juga ada di sana," kata Benner seperti dikutipSpace, Kamis (29/8/2013).

Menurut peneliti, RNA sulit berada di Bumi pada masa awal kehidupan. Pasalnya, Bumi saat itu sudah kaya air yang justru bersifat merusak RNA.

Dengan demikian, peneliti menganggap bahwa kehidupan sebenarnya tercipta di Mars lebih dahulu. Kemudian, kehidupan dibawa ke Bumi lewat meteorit. Skenario ini mungkin karena beberapa mikroba diyakini mampu bertahan dalam perjalanan antariksa.

Benner memaparkan hasil penelitiannya di Goldschmidt Geology Conference di Florida, Kamis kemarin.

Wow, Ada Es di Kawah Bulan?

Wow, Ada Es di Kawah Bulan?
sebuah satelit mengambil gambar permukaan bulan (ilustrasi)
REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON—Pesawat antariksa Lunar Reconnaissance Orbiter (LRO) telah mengirim data yang menunjukkan 22 persen bahan di lapisan kawah yang berada di kutub selatan bulan mungkin terdiri atas es, kata Badan Antariksa AS, NASA.
Tim NASA dan ilmuwan universitas dengan menggunakan cahaya laser dari altimeter laser LRO meneliti dasar kawah Shackleton. Mereka menemukan dasar kawah tersebut lebih terang daripada yang dasar kawah lain di dekatnya, yang sejalan dengan keberadaan sedikit es.
Informasi itu akan membantu peneliti memahami susunan kawah tersebut dan mempelajari daerah lain yang tak dipetakan di bulan. Temuan itu direncanakan disiarkan Kamis di jurnal Nature.
Selain bukti es tambahan, peta kelompok itu mengenai Shackleton mengungkapkan kawah yang terpelihara secara baik yang relatif tak tanpa cacat sejak pembentukannya lebih dari tiga miliar tahun lalu. Dasar kawah tersebut sendiri dipenuhi beberapa kawah kecil, yang mungkin telah terbentuk sebagai bagian dari benturan yang menciptakan Shackleton.
Kawah itu, yang diberi nama dari nama penjelajah Antartika Ernest Shackleton, memiliki dalam dua mil dan lebar lebih dari 12 mil. Seperti beberapa kawah di kutub selatan Bulan, kemiringan kecil poros Bulan berarti bagian dalam kawah Shackleton gelap selamanya sehingga sangat dingin.


Misteri Satelit Aneh di Tata Surya

Kawah satelit Mimas sebesar Australia (wolaver.org)
VIVAnews - Benda ini serupa dengan Bintang Mati pada film Star Wars. “Bintang Mati” ini terlihat berada di dekat cincin Saturnus. Ternyata, ini satelit Saturnus bernama Mimas. Satelit ini ditemukan pada 1789 oleh William Herschel.
Lekukan pada Mimas yang mirip “Bintang Mati” itu hanyalah kawah yang dikenal sebagai Herschel. Kawah ini melebar sejauh 80 mil, meninggalkan jejak raksasa pada satelit hanya 246 mil.
Kawah ini memiliki dinding tinggi 5 mil. Bagian terdalam kawah berukuran 6 mil.
Mimas berukuran mencapai proporsi bumi. Kawah itu meninggalkan bekas pada satelit ini hingga berukuran lebih luas dari benua Australia.
Masih tersimpan misteri mengenai penanda panas satelit ini.
NASA membuat peta terperatur resolusi tinggi dan gambar satelit es Saturnus ini. Gambaran yang dibuat pesawat luar angkasa Cassini ini mengungkap pola permukaan satelit ini. Temuan itu menunjukkan daerah panas.
“Satelit lain biasanya menangkap spot cahaya. Tapi, Mimas ini lebih aneh dari yang kami duga,” ujar ilmuwan proyek Cassini di Laboratorium NASA, Amerika Serikat.
“Ini memberikan kami teka-teki baru,” imbuhnya seperti dilansir dari Daily Mail.
Para ilmuwan bekerja menggunakan spektrometer komposit inframerah untuk memetakan suhu Mimas. Mereka mengira dengan lancar bisa mengetahui variasi puncak temperatur pada awal sore dekat ekuator.
Ternyata, bagian terhangat terjadi pada pagi pada sepanjang salah satu lingkar satelit. Ini membuat satelit serupa ikon game Pac-Man ini memiliki temperatur sekitar 92 Kelvin atau minus 294 derajat Fahrenheit. Bagian lain satelit lebih dingin, sekitar 77 Kelvin (minus 320 derajat Fahrenheit).
Bagian hangat hanya berukuran kecil. Titik ini muncul di sekitar Herschel dengan temperatur sekitar 84 Kelvin (minus 310 derajat Fahrenheit).
“Kami tidak bisa menjelaskan pola hasil pengamatan temperatur permukaan Mimas. Kawah raksasa Herschel menjadi tersangka utama keanehan ini,” ujar penyidik utama dari NASA Goddard Space Flight Center, Dr. Mike Flasar.
“Energi hantaman yang menciptakannya beberapa juta tahun lalu diperkirakan menjadi sepertujuh energi gravitasi khusus Mimas. Ukuran yang lebih besar dari itu dapat merobek satelit ini. Kami ingin mengetahui pola temperatur anomali pada sisi lain Herschel. Ini belum diamati lebih dekat lagi,” ujar Flasar.
“Kami menduga perbedaan suhu menunjukkan perbedaan tekstur pada permukaan,” ujar John Spencer selaku anggota tim spektometer komposit inframerah berbasis di Institut Penelitian Southwest, California, AS.
“Ini mungkin sesuatu perbedaan antara bagian tua, salju padat, dan salju yang baru turun,” imbuhnya.


Makhluk Misterius Penghuni Mars

Ilmuwan mengungkapkan bahwa kemungkinan besar terdapat makhluk hidup di Mars. Mereka membuat sketsa yang menunjukkan makhluk hidup yang ada di planet tersebut berbentuk menyerupai ubur-ubur.
Dilansir London24, Jumat (6/7/2012), menurut ilmuwan, pemandangan popular dari makhluk alien serta E.T yang bersahabat dan mesin pembunuh telah kian meluas. Bahkan, ilmuwan yakin kehidupan di luar bumi adalah lebih mungkin berbentuk ubur-ubur.
Seperti yang diungkapkan ilmuwan luar angkasa, Maggie Aldrein-Pocock, yang telah merampungkan studinya dari Imperial College London. Dia menjelaskan bahwa beberapa ilmuwan telah menyarankan adanya hidrotermal yang memicu terjadinya penciptaan kehidupan awal.
“Beberapa ilmuwan telah menyarankan bahwa lubang hidrotermal, yang membawa panas dan memancarkan air kaya mineral melalui dasar laut, bisa memberikan percikan yang memicu penciptaan kehidupan awal,” ujar Maggie.
Ilmuwan asal Jepang baru-baru ini mensimulasikan kondisi di dalam lubang termal dan mampu menghasilkan arus listrik. “Mereka berpikir bahwa ini bisa membantu mengubah karbon dioksida menjadi molekul organik kompleks yang membentuk precursors kehidupan,” ungkapnya.
Maggie mengatakan, semakin diketahuinya tentang kondisi, di mana kehidupan bisa terjadi, maka perhitungan ilmuwan akan tepat pula mengenai kemungkinan kehidupan ekstraterrestrial (di luar bumi) tersebut.
Ilmuwan menyayangkan adanya kehampaan besar di ruang intergalaksi dan tidak adanya teknologi mesin ruang waktu yang dapat menjawab misteri kehidupan di luar bumi.


Misteri "Setan Mars" terpecahkan

Headline
INILAH.COM, Boston – Pesawat luar angkasa yang mengirim data dari Mars ke Bumi berulang kali mengalami gangguan sinyal di 2005. Awalnya ‘Setan Mars’ diduga sebagai dalangnya. Kini misteri itu terpecahkan.
Dikutip dari UPI, pada Augustus 2005, pesawat luar angkasa Mars Express sedang mengirim data dari wilayah atas kerak Mars. Namun saat itu juga sinyal yang dikirim ‘lumpuh’ di udara.
Para peneliti di Astronomy Department Boston University, AS mengatakan, api matahari dan partikel berenergi tinggi yang terpancar memiliki potensi sangat besar mengganggu sinyal radio di ketinggian tertentu di atmosfer Mars.
Menganalisa kerapatan ion dan elektron di berbagai ketinggian di Mars, para ilmuwan ini menemukan adanya proton berenergi tinggi dari matahari selama api matahari menghantam atom neutral di atmosfer.
Alhasil, elektron makin longgar sehingga elektron bebas dan ion positif tercipta. Jika ada banyak elektron dan ion ini di atmosfer, gelombang radio akan terganggu.
“Inilah yang terjadi di Mars. Banyak terjadi ionisasi sehingga membuat gelombang radio lumpuh,” papar profesor Paul Withers.


Agustus, Kehidupan di Mars Akan Segera Terungkap

Headline
INILAH.COM, London – Pada Agustus 2012, Curiosity Rover milik NASA akan siap mengebor permukaan planet merah ini guna mencari bukti keberadaan kehidupan. Ingin tahu?
Hasil studi terbaru mengungkap, menggali dengan kedalaman beberapa inci sudah bisa mengungkap molekul organik rumit yang mampu menunjukkan bahwa di Mars pernah ada kehidupan. Curiosity nantinya akan menggali sedalam empat inci ke dalam permukaan.
Jay Melosh dari Purdue University yakin, kehidupan bahkan berasal dari Mars kemudian ke Bumi melalui perantara asteroid.
Saat ini, tantangannya adalah, belum pernah ditemukan materi organik di planet ini, kata Alexander Parlov dari NASA Goddard Space Flight Center seperti dikutipDailyMail.
“Kita tahu, molekul organik itu ada, namun kita tak bisa mencarinya di tanah,” lanjutnya.
Curiosity nantinya akan dibekali perlengkapan untuk mengumpulkan sampel batu dan tanah dan memprosesnya di dalam instrumen analitik.
Kita tunggu saja hasilnya nanti.


Lima Kandidat Planet untuk Hunian Baru Manusia

INILAH.COM, California – Sampai saat ini para ilmuwan memang belum menemukan planet yang memiliki bukti kehidupan, namun setidaknya ada beberapa kandidat planet yang dianggap cocok untuk ditinggali oleh manusia.
Seperti dikutip dari Mashable, Planet Gliese 581g merupakan kandidat paling pas untuk menampung kehidupan. Demikian ungkap sistem rangking terbaru untuk planet-planet yang berpotensi untuk ditinggali.
Berikut adalah daftar lima besar planet yang berpotensi untuk ditinggali oleh manusia:
1. Gliese 581g
Planet berbatu. Berjarak 20 tahun cahaya dari Tata Surya kita. Berukuran tiga kali dari Bumi. Mengelilingi bintang Gliese 581 tiap 30 hari sekali.
2. Gliese 667Cc
Ditemukan pada bulan Februari 2011. Berjarak 22 tahun cahaya di konstelasi rasi bintang Scorpion. Berukuran 4 kali planet Bumi.
3. Kepler-22b
Pertama kali ditemukan pada bulan Desember 2011. Berukuran dua kali planet Bumi. Memiliki rata-rata suhu 72 derajat Farenheit. Planet luar ini (exoplanet) ini berjarak 600 tahun cahaya.
4. HD 85512b
Berjarak 35 tahun cahaya dari Bumi. Terletak di konstelasi rasi bintang Vela. Planet ini ditemukan pada bulan Desember 2011. Suhunya diperkirakan adalah 77 derajat Farenheit.
5. Gliese 581d
Planet ini berukuran tujuh kali Bumi. Pertama kali ditemukan pada tahun 2007
Bagaimana dengan Anda? Planet mana yang Anda pilih untuk ditempati?